wisata alam Taman Purbakala Pugung Raharjo

Di belakang kebun jagung padat di Pugung Raharjo desa, Sekampung Udik Kecamatan, Kabupaten Lampung Timur, Propinsi Lampung, adalah dilacak perkembangan peradaban Nusantara. Taman Arkeologi merupakan warisan yang menghemat waktu di masa prasejarah, Hindu, Buddha dan Islam.
Taman Arkeologi Pugung Raharjo terlihat indah. Lokasinya yang di tengah-tengah perkebunan jagung dan dari pemukiman membawa ketenangan sendiri.


“Luasan lahan yang ditunjuk sebagai Pugung Raharjo Archaeological Park adalah 30 hektar, tapi hanya sekitar 6 hektar telah diperoleh, sementara seluas 24 hektar yang masih dimiliki oleh penduduk,” kata Turwidi, penerjemah situs, Selasa (10/1/2017).
Di tanah, pengunjung dapat melihat sejumlah situs kuno, seperti benteng castle, enam tangga punden situs, situs batu Mayat, dan megalitik Pond.
Benteng parit berbentuk memanjang sekitar seluruh situs arkeologi. Benteng dan parit sekarang tampak hanya seperti gundukan besar, ditutupi dengan tanah dan ditumbuhi rumput.
“Situs ini ada dua tanah benteng, panjang benteng Timur 1200 meter, dan 300 meter Barat. Di masa lalu, benteng parit ini berfungsi sebagai tempat perlindungan binatang liar atau serangan musuh,”kata Turwidi.
Pergi lebih dalam, pengunjung dapat melihat berbagai punden teras. Punden ukuran bervariasi dan ada berundak satu, dua dan tiga. Arkeolog memprediksi, punden adalah peninggalan zaman megalitikum sekitar 2.500 tahun sebelum Kristus.
Awalnya punden teras di Taman Pugung Raharjo 13 unit. Namun, sekarang hanya tujuh meninggalkan. Sejumlah punden rusak dan rata dengan tanah karena usia, alam, atau faktor manusia.
Tujuh punden tersisa, punden enam adalah punden terbesar. Punden enam memiliki tiga langkah dengan langkah pertama ukuran sekitar 25 meter x 25 meter, langkah kedua 14 meter x 14 meter, dan ketiga langkah 7 meter x 7 meter. Ketinggian enam punden adalah 7 meter.
“Pemuja besar tangga Punden berundak, sementara kecil punden digunakan terbatas hamba-hamba. Pada zaman kuno, punden berfungsi sebagai tempat ibadah dari roh leluhur, atau berfungsi sebagai makam,”kata Turwidi.
Di daerah ada juga mayat batu. Di situs sejumlah batu yang diatur tegak dan rata untuk membentuk sebuah persegi panjang yang menyerupai sangkar. Ada juga laki-laki genital batu (bentuk zakar), batu bergores, batu yang tertulis dengan huruf T yang melambangkan kesuburan (wanita), dan meja batu. Menurut Turwidi, Batu Mayat kompleks sekali digunakan sebagai sebuah upacara yang berhubungan dengan penyembahan dan kesuburan.
Di kompleks situs juga ada kolam megalitik. Yang mengatakan, lokasi ini adalah tempat untuk mengambil air untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tujuan upacara. Ada dua kolam yang dipisahkan dengan jalur berbatu. Kolam di sisi Timur lebih kecil, tetapi itu adalah sudah berdinding batu. Sementara kolam di sisi barat berbentuk seperti sebuah danau.
Air di kolam kedua itu begitu jelas bahwa dasar kolam jelas. Di sisi barat kolam renang, pengunjung dapat melakukan ikan terapi (ikan pedikur). Hanya perlu untuk mencelupkan kaki ke dalam kolam, ikan akan menyusup dan memberi gigitan kecil di kaki.
Turwidi mengatakan, sejumlah studi panggilan tingkat keasaman air di kolam yang dekat dengan PH 7. Ini menunjukkan air di kolam bisa diminum langsung tanpa perlu untuk memasak pertama.
“Oleh beberapa orang, air ini diyakini air magis, dan beberapa penduduk mengambil air dari kolam sebagai pembawa beruntung, obat-obatan atau obat awet muda,” kata Turwidi.
Tahun 1957
Relik-relik dalam Archaeological Park Pugung Raharjo pertama ditemukan pada 14 Agustus 1957 oleh kehadiran K. Penduduk setempat menemukan struktur batu yang besar, gundukan persegi bumi dan patung perempuan yang terbuat dari Batu Andesit. Wanita duduk dengan sikap Dharmacakra Mudra dan diperkirakan berasal dari abad ke-12 Masehi.
Sejak itu, sejumlah studi dan penggalian (penggalian) mulai sering dilakukan. Penelitian Arkeologi menunjukkan, Taman Pugung Raharjo adalah situs yang sangat unik dan menarik. Dalam satu area, begitu banyak peninggalan periode yang berbeda, yaitu prasejarah, Hindu-Buddha dan Islam.
Punden, Batu Batak kompleks dan kolam megalitik adalah peninggalan zaman prasejarah. Arkeolog memprediksi relik berasal dari 2500 tahun sebelum Kristus.
Peninggalan era Hindu dan Buddha yang ditemukan di sekitar Archaeological Park Pugung Raharjo termasuk patung Budha, patung-patung jenis Polinesia, prasasti bungkuk, mata uang Cina, dan keramik.
Sementara peninggalan era Islam dibuktikan dengan penemuan prasasti Dalung. Prasasti ini terbuat dari tembaga pelat bantalan huruf Arabnya botak dengan bahasa Banten. Prasasti berisi hukum laut dan perdagangan lengkap dengan tahun nomor 1102 Hijriah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s